Sarasehan Pengusaha Toko Modern

Sarasehan Pengusaha Toko Modern 2

Toko modern di kabupaten Wonosobo semakin tumbuh dan berkembang, tetapi sayang, pertumbuhan ini tidak diimbangi dengan dukungan masyarakat. Sebab, justru masyarakat yang paling banyak mengeluh karena usaha dengan jenis frenchise dan waralaba. Menurut mereka dengan semakin suburnya toko modern ini maka akan mematikan toko-toko yang dikelola oleh masyarakat. Padahal kekhawatiran ini hanya berdasarkan asumsi. Belum ada fakta ataupun penelitian yang menunjukkan hasil bahwa keberadaan toko modern dalam bentuk waralaba akan mengancam kehidupan masyarakat. Sebab pihak pengusaha dari waralaba ini pun dapat menyesuaikan dengan kondisi dan keinginan masyarakat. Misalnya saja dalam sebuah toko ritel, masyarakat justru dapat menjual produk-produknya di toko tersebut. Tentu saja dengan keuntungan dan profit yang telah disepakati. Maka bila dilihat dari sudut pandang yang lain, justru bisnis waralaba ini akan sangat membantu masyarakat. Maka dari itu yang diperlukan adalah sosialisasi tentang jenis bisnis ini. Karena deru peradaban tidak akan pernah bisa dihindari.

Sarasehan Pengusaha Toko Modern

 

Para kelompok pengusaha bertemu dengan pebisnis senior, yaitu Chandra Ekajaya. Pengusaha senior ini berjanji akan menjadi juru bicara dengan pemerintah daerah supaya digelar acara sarasehan yang dapat menjembatani cara pandang kedua belah pihak. Menurutnya, ini hanya soal salah paham saja. Jika masyarakat sudah diberikan pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang bisnis waralaba, maka ke depannya masyarakat justru akan mendukung konsep bisnis ini. Pengusaha Chandra Ekajaya menekankan kepada para pengusaha muda supaya mereka dapat menjelaskan secara rinci dan detil kepada masyarakat bagaimana konsep bisnis waralaba. Mereka juga perlu menjelaskan kepada masyarakat supaya masyarakat tahu bahwa mereka bisa berperan, bahkan boleh mendirikan usaha waralaba. Pemerintah pun harus memberikan pelatihan, pembinaan, dan pendidikan supaya masyarakat tidak langsung antipati dengan segala produk globalisasi. Sebab ini akan berpengaruh pada investasi di wilayah tersebut. Jika masyarakat menolak konsep investasi, maka daerah yang hanya mengandalkan APBD biasanya tidak akan pernah maju. Karena negara saat ini sedang dalam kondisi defisit. Maka tidak heran jika banyak daerah yang membuka peluang investasi kepada para pengusaha.

Izin Galian C Sulit

Izin-Galian-C-Sulit

Penambangan memang merupakan ladang uang yang sangat menggiurkan. Tetapi untuk permasalahan izinnya pun sangat susah. Sebab saat ini untuk galian tipe C, yang memberikan kewenangan adalah pemerintahan provinsi. Maka dari itu beberapa kelompok pengusaha yang bergerak di sektor pertambangan, khususnya galian tipe C membentuk asosiasi dan melakukan audiensi ke dewan perwakilan rakyat daerah. Sebab menurut kebijakan, regulasi, dan aturan yang baru, maka seluruh kegiatan pertambangan harus mendapatkan izin dari Dinas Pertambangan dan Energi di setiap provinsi. Regulasinya pun sangat ketat. Maka dari para pengusaha yang bergerak di wilayah daerah merasa kesulitan saat mengerjakan proyek. Inilah yang menjadi dasar mereka untuk meminta audiensi ke dprd provinsi. Menurut mereka, saat ini untuk mengurus perizinan pada galian tipe C lebih rumit. Apalagi kompetensi tiap orang di setiap wilayah pasti berbeda. Maka akan sangat susah jika dibuat standar sesuai regulasi. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak menyelahkan para aparat yang melaksanakan perintah.

Izin Galian C Sulit 2

Aparat pasti hanya melaksanakan peraturan yang sudah ditetapkan. Tetapi dari sisi pengusaha, seperti Chandra Ekajaya, kebijakan ini nantinya akan berpengaruh pada penyerapan anggaran. Selain itu para penambang juga mempertanyakan kenapa proyek-proyek yang didanai oleh anggaran pendapatan belanja negara bisa berjalan tanpa harus direpotkan dengan perizinan. Dari segi nasionalisme, tentu saja mengutamakan kepentingan negara tentu lebih mulia bila dibandingkan kepentingan pribadi. Sayangnya, waktu untuk proses pelelangan sudah sangat mendesak dan mepet, sedangkan masih banyak jasa konstruksi yang belum mendapatkan izin galian c. Pengusaha Chandra Ekajaya hanya ingin kepentingan desa saat membangun infrastruktur dipermudah. Sehingga kepentingan bersama ini dapat didahulukan karena menyangkut tentang kesejahteraan masyarakat. Pebisnis ini pun menyayangkan pemerintah karena tidak memberikan sosialisasi terlebih dahulu secara intens kepada para pebisnis ataupun pelaku usaha. Kejadian ini bisa dihindari dengan kerap bertemu dan mencari solusi bersama. Sebab pelaku usaha pun pasti sangat mendukung kegiatan yang memajukan kesejahteraan bangsa dan negara. Oleh sebab itu para pengusaha pasti mendukung serta mempunyai nasionalisme yang tinggi.

Chandra Ekajaya Impor Bahan Baku

Chandra Ekajaya Impor Bahan Baku

Sebagai seorang pengusaha kertas, Chandra Ekajaya mengimpor keping kayu untuk digunakan sebagai bahan mentah industri kertas. Nilai impor ini, dalam setahunnya mencapai 1,5 triliun rupiah per tahunnya. Ini merupakan konsekuensi dari kebijakan yang paling baru dari pemerintah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melalui menterinya, Siti Nurbaya telah menerapkan kebijakan baru mengenai pembangunan hutan tanaman industri di lahan gambut. Sebab kebanyakan pohon yang nantinya diolah menjadi keping kayu berada di hutan lahan gambut. Pengusaha yang hidup di tanah air Indonesia, pasti akan menuruti kebijakan dari pemerintah Indonesia. Sehingga pasti akan taat dan patuh kepada kebijakan dan regulasi yang berlaku. Meskipun bila dilihat dari sisi yang lain pengusaha harus mengimpor bahan mentah dari luar negeri yang nilainya mencapai 1,5 triliun per tahunnya. Impor ini bertujuan supaya mesin yang digunakan terus beroperasi. Sebab bila sampai tidak beroperasi dalam jangka yang lama, maka biaya perbaikan mesin lebih mahal.

Chandra Ekajaya Impor Bahan Baku 2

Dua bulan yang lalu, tepatnya pada bulan Februari 2017, Siti Nurbaya selaku menteri LHK mengeluarkan regulasi tentang pelaksanaan pemulihan ekosistem gambut. Pengusaha Chandra Ekajaya menyebutkan bahwa dalam peraturan tersebut terdapat poin yang berisi tentang konservasi dan konsesi hutan tanaman industri. Kebanyakan hutan tanaman industri ini dimasukkan dalam kawasan hutan dengan fungsi ekosistem gambut. Maka dari itu para pengusaha industri harus mengubah atau merevisi rencana kerja usaha. Sebab konsesi yang masuk ke dalam fungsi ekosistem gambut hanya boleh dipanen sekali, setelah itu tidak boleh ditanami kembali karena diadakan pemulihan. Kini banyak pengusaha yang mengimpor bahan mentah keping kayu dari Malaysia dan Thailand. Kertas masih tetap harus diproduksi, karena pendidikan di Indonesia masih memerlukan kertas sebagai media untuk menyalurkan ilmu pengetahuan dalam bentuk buku. Oleh sebab itu kertas-kertas masih diperlukan. Makanya pengusaha industri kertas lebih memilih untuk mengimpor bahan baku supaya industri tetap berjalan. Selain karena alasan pendidikan, industri kertas juga menyerap banyak tenaga kerja. Maka Chandra Ekajaya berkata bahwa sangat rawan jika industri ini diberhentikan secara sepihak.

Chandra Ekajaya Pengusaha Sembako

Chandra Ekajaya Pengusaha Sembako

Chandra Ekajaya tidak menjadi seorang pengusaha karena faktor keturunan. Ia menjadi pengusaha karena usaha dan kerja kerasnya dalam mengarungi kehidupan yang penuh karang nan terjal ini. Pada mulanya bekerja di sebuah warung sembako yang kecil. Dari sinilah ia bisa belajar tentang takaran dan harga dari semua barang sembako. Seperti minyak goreng, gula, beras, garam, dan sebagainya. Sayangnya, manajemen dari pemilik warung sembako tersebut kurang baik, sehingga akhirnya warung tersebut bangkrut dan tutup. Karena warung sembako tersebut gulung tikar, akhirnya Chandra Ekajaya harus mencari pekerjaan yang lain. Akhirnya ia bekerja di sebuah perusahaan kertas. Walaupun tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut, karena kerja keras dan ketekunannya, ia dijadikan sebagai manajer di kantor cabang sebuah kabupaten. Dari sini ia belajar tentang dunia manajemen. Setelah sepuluh tahun bekerja di perusahaan tersebut, pengusaha ini memutuskan untuk mengundurkan diri dan mendirikan usaha sendiri. Ia kemudian mendirikan sebuah usaha sembako.

Chandra Ekajaya Pengusaha Sembako 2

Pada mulanya ia mendirikan sebuah rumah yang nantinya akan digunakan juga sebagai warung sembako. Karena daerah tersebut masih sepi, maka dagangannya masih belum terlalu laku. Akhirnya ia mempunyai ide yang sangat brilian. Pengusaha Chandra Ekajaya kemudian membangun 20 rumah di sekitar rumahnya. Lalu rumah-rumah tersebut dikontrakkan dengan harga yang terjangkau. Sasarannya adalah kelas menengah ke bawah yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang. Sehingga nantinya mereka akan membeli sembako di warung miliknya. Cara marketing ini diperolehnya dari perusahaan kertas yang pernah menjadi tempat kerjanya. Prinsip dasarnya adalah membuat pasar supaya barang-barang dagangan atau produksi yang siap jual bisa didistribusikan. Itulah yang menjadi kunci suksesnya. Itulah alasan kenapa banyak warung sembako yang bangkrut dan gulung tikar. Sebab mereka tidak memikirkan tentang pasar. Seharusnya yang mereka pikirkan pertama kali adalah mengenai pasar. Jadi nantinya jelas arah ke mana barang-barang tersebut didistribusikan. Pengusaha Chandra Ekajaya selalu bekerja menggunakan matriks yang jelas dan rencana kerja yang tepat. Sehingga kini usahanya bisa berjalan dengan maksimal dan optimal.

Pengusaha Bisnis Waralaba

Waralaba

Pebisnis pemula saat ini kebanyakan menjatuhkan pilihannya kepada bisnis waralaba. Hal ini wajar sebab jenis bisnis ini sedang menjadi salah satu magnet investasi. Bagi Chandra Ekajaya yang belum mengerti dunia bisnis, waralaba atau frenchise adalah jawaban tepat. Karena dengan menjajal bisnis ini maka siapa saja mampu menjadi seorang pengusaha walaupun tidak mempunyai cukup pengetahuan dalam dunia bisnis.

Chandra Ekajaya Bisnis Waralaba
Dok. Istimewa

Dunia bisnis adalah dunia yang tegas. Ia memang menawarkan keuntungan yang banyak, tetapi ia pun juga menawarkan kerugian yang tak sedikit. Bagaimana pun juga bisnis itu seperti kehidupan, ia adalah pertaruhan dimana seorang manusia harus menentukan pilihan-pilihannya ke depan.

Memiliki hati baja adalah sebuah syarat utama untuk menjadi seorang pengusaha. Sebab bila nyalinya kecil, maka sudah bisa dipastikan sejak awal ia akan bangkrut dan usahanya akan kandas. Bisnis akan selalu berjalan bersisihan dengan deru peradaban. Ia harus terus menerus menyesuaikan dirinya dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks.

Oleh karena itu bisnis waralaba memberikan kemudahan supaya pengusaha awam dapat membentuk mental dan nyalinya untuk menjajal bisnis yang lebih besar. Dalam model ini pun pemilik waralabaa yang berperan sebagai pemberi tidak mengenal diskriminasi dalam memilih calon mitra atau rekanan usahanya. Sebab pedoman utamanya adalah keuntungan bersama, supaya nantinya bisnis waralaba tersebut dapat berkembang dengan sangat pesat.

Bisnis waralaba sebenarnya muncul dari ide-ide kreatif generasi muda. Mereka melakukan inovasi dalam memasarkan serta mendistribusikan produk barang atau jasa, sehingga keuntungan yang mereka dapatkan lebih masif. Selain itu karena ingin produknya dikenal lebih luas, maka membuka cabang dengan sistem yang sekarang dikenal dengan waralaba merupakan sebuah keuntungan.

Gerobak Waralaba Chandra Ekajaya
Dok. Istimewa

Dengan sistem seperti ini maka pemilik brand akan semakin untung karena merek dagang miliknya semakin dikenal oleh masyarakat. Kemudian pengusaha awam pun mendapatkan keuntungan dalam bentuk finansial. Untuk jenis-jenisnya sendiri, waralaba itu sangat variatif. Misalnya saja jenis pendidikan seperti Primagama, kuliner seperti KFC, mini outlet seperti Kebab Turki, dan sebagainya.

Tetapi memang ada efek yang tidak mengenakkan bagi pengusaha yang tidak dapat berdamai dengan zaman. Misalnya saja pebisnis di sektor internet cafe atau warnet, bisnis mereka memang berkembang dengan sangat cepat di tahun 2010an. Sayangnya beberapa tahun setelahnya ia ditelan oleh perkembangan teknologi dengan munculnya gadget atau smart phone yang canggih.

Hal tersebut bukanlah kesalahan pengusaha yang lebih kuat atau pun pengusaha yang lemah. Ini hanyalah masalah sudut pandang dimana mereka memandang ke depan atau hanya pada masa kini. Deru peradaban memang kejam, dan ia tidak akan pernah pilih kasih. Waralaba kini adalah salah satu jenis usaha yang mampu bersinergi dengan perkembangan zaman.