Yohanes Chandra Ekajaya Masa Kehidupan Sang Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer

Dok. Yohanes Chandra Ekajaya

Pramoedya Ananta Toer yang merupakan seorang putra bangsa kelahiran Blora pada tahun 1925 merupakan seorang penulis dan aktivis sastra Indonesia yang sangat memuja seorang tokoh sosialis Rusia, Lenin. Menurutnya, berkat Lenin-lah kala itu Rusia dapat menjadi sebuah “surga dunia”. Akibat keheranannya itu, Pram tak segan-segan mengkampanyekan Lenin melalui tindakan konkretnya, yakni menjadi anggota sebuah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang merupakan sebuah organisasi sayap kiri di Indonesia.

Keadaan itu pun menghasilkan efek pada karya sastra Pram. Karyanya beraliran realisme-sosialis. Pram mempraktikkan sosialisme di bidang sastra. Banyak unsur politik di dalam karya-karyanya karena politik merupakan realitas sosial bagi sosialis. Sebagai efeknya, Pram terpaksa hidup dalam bui selama 3 tahun pada masa kolonial, 1 tahun pada masa orde lama, dan 14 tahun pada masa orde baru.

Salah satu karya sastra yang mengharumkan namanya Pramoedya Ananta Toer  adalah Bumi Manusia. Novel ini merupakan bagian dari tetralogi yang dikarang oleh Pram selama masa penahanannya di Pulau Buru. Tetralogi tersebut terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Sesaat setelah penerbitannya, keempat novel tersebut langsung dilarang beredar oleh pemerintah. Pemerintah menganggap novel-novel karangan Pram itu mempropagandakan ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme dan komunisme. Padahal, tak sedikit pun hal-hal tersebut disebutkan dalam buku-bukunya.

Dok.Yohanes Chandra Ekajaya

Setelah dilarang peredarannya, Bumi Manusia kembali diterbitkan pada tahun 2005. Saya mengambil novel ini sebagai bahan analisis karena ingin mengungkapkan apa saja yang membuatnya telah menuai kontroversi yang hebat. Saya pun ingin mengupas kritik-kritik sosial dan politik yang terdapat di dalam novel semi-fiksi karya Pramoedya Ananta Toer ini. Adapun tujuan saya menulis makalah ini adalah agar pembaca dapat mengambil hikmah dan intisari di balik cerita dalam novel yang sangat kontroversial ini.

Bumi Manusia merupakan novel semi-fiksi yang termasuk realisme-sosialis. Novel ini dikatakan sebagai novel semi-fiksi karena tokoh utamanya, Minke, merupakan tokoh cerminan pengalaman RM Tirto Adisuryo, seorang tokoh pergerakan pada zaman kolonial yang mendirikan Sarekat Priyayi (organisasi nasional pertama). Lingkungan yang digambarkan pada novel ini adalah Hindia Belanda pada awal abad ke-20 (Allen, 2004: 24). Pemilihan latar waktu tersebut sangat membantu pembaca untuk lebih memahami dan mendapatkan isi yang terkandung dalam ceritanya.

Latar sosial yang mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa, dan lain-lain yang terdapat dalam novel ini juga sangat membantu pembaca mengikuti jalan cerita novel ini. Bagaimana pengarang berhasil memvisualkan semua itu dengan cukup mendetail telah menunjang tersampaikannya amanat-amanat pengarang kepada pembaca.

Ringkasan diatas ditulis oleh Yohanes Chandra Ekajaya yang juga merupakan seorang pengusaha sukses kelahiran Malang Jawa Timur. Ia mempunyai sebuah pembahasan yang lebih detail dan lengkap dari ulasan ringkas diatas. Secara pribadi memang Yohanes Chandra Ekajaya tidak ada ikatan secara khusus hanya saja Yohanes Chandra Ekajaya sangat suka dengan sejarah yang ada pada negeri ini. Berikut ini sebuah ulasan yang lebih lengkap tentang pramoedya Ananta Toer oleh Yohanes Chandra Ekajaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *